Cari

Rabu, 08 November 2017

Belajar Bahasa Arab Sebagai Bekal Untuk Menghadapi Masa Depan

Selasa(07/11), pesantren mahasiswa (pesma) al-Iqbal melaksanakan kajian bahasa Arab bersama ustadz Miftah dari Persyada al-Haromain. Kajian ini terkesan berbeda ketika diberlakukannya sebuah sistem baru dalam pesma al-Iqbal yang mewajibkan setiap santri untuk melakukan absensi kehadiran tepat sebelum kajian dimulai dan apabila datang setelah kajian dimulai maka akan mendapatkan tanzir. Tanzir untuk sekali tidak hadir atau datang terlambat tanpa alasan syar’i adalah istighfar lima ribu kali dan berlaku kelipatan untuk ketidakhadiran atau kealpaan selanjutnya.
Kajian bahasa Arab ini dimulai dengan pembahasan kitab al-Af’aal yang telah sampai pada kata-kata yang berhubungan langsung dengan suatu perkumpulan atau kegiatan berkelompok seperti kalimah sallama yang berarti menyelamatkan kemudian kalimah ijtima’a yang berarti berkumpul. Tidak hanya kalimah yang berkonotasi positif, kitab al-Af’aal juga memuat kalimah yang venderung berarti negatif seperti kalimah ghadiba yang berarti marah dan kalimah kadziba  yang berarti berbohong. Sebagai seorang Muslim kita harus sebisa mungkin menghindari sikap marah dan berbohong terutama kepada lingkaran perkumpulan yang kita berada di dalamnya, karena sikap itu akan menimbulkan keretakan ukhuwah dalam perkumpulan tersebut dan dampak terburuknya adalah kita akan terkempar jauh dari lingkaran perkumpulan itu.
Kajian berlanjut dengan pembahasan kalimah-kalimah isim dalam kitab al-Asma’. Pada kesempatan kali ini al-Asma’ sampai pada bahasan kalimah isim (kata benda) yang berada di rumah. Kalimah-kalimah isim terseut adalah sebagai berikut :
1.      Baabun yang berarti pintu
2.      Naafidzatun yang berarti jendela
3.      Kursiyyun yang berarti kursi
4.      Shuratun yang berarti gambar
Dan seterusnya, setiap satu kali kajian biasanya kata yang dipelajari adalah sebanyak 15 kata dan setiap kata wajib dihafalkan. Kata yang telah dihafalkan pun diharuskan untuk digunakan dalam muhawarah sehari-hari agar tetap ingat dan semakin memperlancar kemampuan berbicara bahasa Arab.
            Kajian bahasa Arab sampai pada kitab yang terakhir yakni kitab muhawarah. Kajian  kitab muhawarah  sampai pada addarsus saadis (pelajaran keenam) yang berisi tentang percakapan dua orang mengenai rasa dan warna. Melalui kitab muhawarah ini para santri dapat memeroleh kosa kata baru dan juga dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab beserta logat aslinya (logat orang arab). Oleh karena itu, para santri diharapkan lebih fokus dalam mengkaji kitab ini agar percepatan-percepatan dalam memelajari bahasa Arab bisa tercapai. Lebih fokus pada kitab muhawarah bukan berarti mengabaikan dua kitab sebelumnya karena dua kitab sebelumnya yakni kitab al-Af’aal dan al-Asma’ merupakan bekal untuk memelajari kitab ketiga yakni kitab muhawarah.

            Demikianlah kajian bahasa Arab yang dapat disampaikan oleh ustadz Miftah pada kesempatan kali ini, semoga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat dan menjadi bekal untuk menghadapi masa depan. Aamiin aamiin Yaa Rabbal ‘alamiin. Bismillah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar