Selasa(07/11),
pesantren mahasiswa (pesma) al-Iqbal melaksanakan kajian bahasa Arab bersama
ustadz Miftah dari Persyada al-Haromain. Kajian ini terkesan berbeda ketika
diberlakukannya sebuah sistem baru dalam pesma al-Iqbal yang mewajibkan setiap
santri untuk melakukan absensi kehadiran tepat sebelum kajian dimulai dan
apabila datang setelah kajian dimulai maka akan mendapatkan tanzir. Tanzir untuk sekali tidak hadir atau datang terlambat tanpa alasan syar’i adalah istighfar lima ribu kali
dan berlaku kelipatan untuk ketidakhadiran atau kealpaan selanjutnya.
Kajian bahasa Arab ini
dimulai dengan pembahasan kitab al-Af’aal
yang telah sampai pada kata-kata yang berhubungan langsung dengan suatu
perkumpulan atau kegiatan berkelompok seperti kalimah sallama yang
berarti menyelamatkan kemudian kalimah
ijtima’a yang berarti berkumpul. Tidak hanya kalimah yang berkonotasi positif, kitab al-Af’aal juga memuat kalimah
yang venderung berarti negatif seperti kalimah
ghadiba yang berarti marah dan kalimah kadziba yang berarti berbohong.
Sebagai seorang Muslim kita harus sebisa mungkin menghindari sikap marah dan
berbohong terutama kepada lingkaran perkumpulan yang kita berada di dalamnya,
karena sikap itu akan menimbulkan keretakan ukhuwah
dalam perkumpulan tersebut dan dampak terburuknya adalah kita akan
terkempar jauh dari lingkaran perkumpulan itu.
Kajian berlanjut dengan
pembahasan kalimah-kalimah isim dalam
kitab al-Asma’. Pada kesempatan kali
ini al-Asma’ sampai pada bahasan kalimah
isim (kata benda) yang berada di rumah. Kalimah-kalimah isim terseut adalah
sebagai berikut :
1.
Baabun yang
berarti pintu
2.
Naafidzatun yang
berarti jendela
3.
Kursiyyun yang
berarti kursi
4.
Shuratun yang
berarti gambar
Dan seterusnya, setiap satu kali kajian
biasanya kata yang dipelajari adalah sebanyak 15 kata dan setiap kata wajib
dihafalkan. Kata yang telah dihafalkan pun diharuskan untuk digunakan dalam muhawarah sehari-hari agar tetap ingat
dan semakin memperlancar kemampuan berbicara bahasa Arab.
Kajian
bahasa Arab sampai pada kitab yang terakhir yakni kitab muhawarah. Kajian kitab muhawarah sampai pada addarsus saadis (pelajaran keenam) yang berisi tentang percakapan dua
orang mengenai rasa dan warna. Melalui kitab muhawarah ini para santri dapat memeroleh kosa kata baru dan juga
dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab beserta logat aslinya (logat
orang arab). Oleh karena itu, para santri diharapkan lebih fokus dalam mengkaji
kitab ini agar percepatan-percepatan dalam memelajari bahasa Arab bisa tercapai.
Lebih fokus pada kitab muhawarah
bukan berarti mengabaikan dua kitab sebelumnya karena dua kitab sebelumnya
yakni kitab al-Af’aal dan al-Asma’ merupakan bekal untuk
memelajari kitab ketiga yakni kitab muhawarah.
Demikianlah
kajian bahasa Arab yang dapat disampaikan oleh ustadz Miftah pada kesempatan
kali ini, semoga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat dan menjadi bekal untuk
menghadapi masa depan. Aamiin aamiin Yaa
Rabbal ‘alamiin. Bismillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar